Merekamembuat liputan tentang kehidupan. Cerpen 'meraih cita cita dari rumah'. Doa seorang anak memohon bimbingan tuhan yesus agar cita cita tercapai. Para tetua kita dahulu memberi pesan singkat yang menarik dan terus menggaung hingga saat ini. cita cita bukanlah sesuatu yang dapat anda lakukan pada minggu ini atau bahkan tahun- Kali ini kita akan mempelajari contoh paragraf menceritakan cita-cita dalam bahasa Inggris. Cita-cita atau mimpi memiliki arti yang luas dan meliputi tujuan, semangat, hasil, dan masih banyak lagi. Saat kita memiliki sebuah mimpi maka hal tersebut dapat memberikan kita tujuan, arah, dan makna pada hidup kita, Adjarian. Baca Juga Contoh Dialog Asking and Giving Attention dalam Bahasa Inggris Mimpi membentuk pilihan hidup kita dan juga membantu kita membangun masa depan, dan memberi kita rasa kendali dan harapan. Cita-cita atau mimpi juga bisa diartikan sebagai ekspresi dari potensi dan menyuarakan bakat yang kita punya. Beberapa orang mengawali cita-cita mereka berdasarkan hobi yang sering dilakukan, oleh sebab itu, cita-cita adalah sumber kesenangan dan membantu mengembangkan diri. Nah, agar Adjarian bisa mengekspresikan cerita mengenai cita-cita dalam bahasa Inggris, yuk, kita simak contoh paragrafnya di bawah ini! "Cita-cita dalam bahasa Inggris berarti dreams yang bisa diartikan juga sebagai mimpi." Berikutini adalah contoh cerpen tentang keterbatasan fisik, namun sukses membuktikan Kemauan dan tekad yang tinggi, usaha yang sangat besar menjadikannya berhasil mewujudkan cita-cita yang notabene mustahil untuk seorang cacat. Baca Juga: Cerpen Singkat Tentang Orang Tua Sibuk Bekerja. Itulah cerpen singkat tentang keterbatasan fisik yang Tulisan "Live Your Dream". Sumber foto Pixabay“Kamu harus punya mimpi masuk universitas negeri terkemuka. Mimpi kamu harus melampaui kakak-kakakmu. Kalau kamu tidak mau jadi dokter, kamu boleh ambil teknik pertambangan.” Kata Ayahku di depan keluarga besar Ankarian, anak terakhir dari enam bersaudara. Keluargaku termasuk keluarga yang disegani oleh masyarakat sekitar. Dibesarkan oleh tata krama, pandangan sosial, dan derajat yang mereka anggap anak, wajib hukumnya mengikuti kemauan orang tua. Jika tidak, maka akan di cap sebagai pembangkang. Definisi sukses dan bahagia yang dipikirkan hanyalah soal derajat dan materi. Padahal lebih dari itu, kebahagiaan adalah bagaimana kita menikmati proses hidup menjadi lebih melihat riwayat pendidikan dari keluarga besarku, mencapai strata satu sudah sangat biasa. Bahkan setiap anak wajib melewati gapaian kakak-kakaknya. Dari prestasi akademik hingga non-akademik, semua anak wajib menorehkan terlahir menjadi yang paling biasa. Paling tidak ingin repot karena tuntutan orang-orang dewasa. Paling tidak ingin memiliki ambisi berlebihan. Paling tidak ingin memaksakan hidup hingga lupa menikmati ingin berproses dengan caraku sendiri. Aku ingin bergerak sendiri, aku ingin mengambil keputusan dengan pilihanku sendiri. Dan aku ingin hidup dengan jalanku sendiri. Setidaknya, aku ingin benar-benar hidup dengan kemampuanku semua hanya keinginanku saja. Tidak pernah dapat terwujud dan tak pernah berani aku lakukan.“Kamu harus sekolah di sini. Mengikuti semua kakak-kakakmu.” Kata Ayahku ketika aku ingin mendaftarkan diri ke sekolah lain.“Kamu sekolah di sini saja. Jalanmu menuju universitas impianmu akan lebih mudah.” Kata kakak laki-laki tertuaku.“Kamu harus masuk jurusan ini. Kamu akan mudah dikemudian hari.” Ucap kakak kemudahan untukku, benarkah itu semua untukku? Atau hanya untuk mewujudkan mimpi mereka melalui aku? Aku bukan lah boneka. Aku bukan lah alat untuk mewujudkan mimpi-mimpi tertunda mereka. Karena sesungguhnya, aku pun memiliki mimpi seperti turuti semua keinginan mereka. Aku masuk sekolah pilihan ayahku, aku melanjutkan di sekolah pilihan kakak laki-lakiku. Aku masuk jurusan sesuai dengan keinginan kakak Sangat bosan. Rasanya melelahkan hanya mengikuti keinginan orang-orang dewasa. Aku ingin melakukan apa yang aku suka juga. Tidak mengerti kah bahwa setiap anak memiliki mimpi masing-masing? Tidak bisa kah percaya kepada mimpi anak dan tetap mendukung inginnya?Saat memasuki Sekolah Menengah Atas, setiap siswa diwajibkan mengikuti satu ekstrakurikuler. Berkegiatan di luar sekolah adalah keinginanku. Setidaknya begitulah cara yang dapat aku lakukan untuk menjauhkan diri dari lingkungan keluarga yang selalu menekanku. Maka, jangan pernah salahkan anak jika lebih asyik berkegiatan diluar. Bisa jadi, itu karena lingkungan keluarga yang tidak memberikan ruang untuk memilih ekstrakurikuler teater. Jadwal kegiatannya lebih padat dari dugaanku. Di hari libur aku masih harus berlatih, dan ternyata kegiatan ini sangat menyenangkan. Setidaknya, ini membuatku lupa akan masalah yang ada di keluargaku.“Aku mau ikut lomba teater.” Ucapku di depan Ibuku“Apa? Buat apa kamu ikut kaya gitu? Mending belajar buat olimpiade nanti.”“Tapi ini tingkat Nasional. Aku udah ikut seleksinya dari jauh-jauh hari, Bu.”“Terserah kamu.” Jawab Ibu dengan ketusAku yakin, pasti aku dianggap membangkang karena berkesenian. Di keluargaku tidak ada yang menekuni bidang seni apa pun. Hingga muncul lah anggapan bahwa berkesenian hanya membuang-buang waktu. Tidak memiliki masa ketus Ibu mengantar kepergianku menuju lokasi perlombaan. Tidak ada restu dari orang tua, tidak ada yang mengantar menuju bandara. Penerbangan menuju Yogyakarta kuhabiskan dengan melihat cermin diri. Mencoba menguatkan hati agar tetap teguh berdiri walau berjuang seorang sungguh berat. Memperjuangkan mimpi tanpa ada dukungan dari keluarga. Jika mereka melihat aku tak mampu, maka aku harus membuktikan bahwa mereka salah. Aku tidak akan banyak berbicara, tapi aku akan berjuang sekuat yang terbaik, menampilkan semua kemampuan dengan maksimal telah aku lakukan. Aku baru saja keluar arena pertunjukan. Pertunjukanku sudah berakhir dari 15 menit yang lalu. Aku menatap layar gawaiku. Tidak ada pesan masuk dari keluargaku. Entah yang menyemangati atau sekadar harinya aku kembali ke arena pertunjukan. Malam ini, adalah malam puncak dari rangkaian acara perlombaan. Aku tidak mengharapkan apa pun, aku harus mempersiapkan diri untuk kembali. Apa pun hasilnya, mungkin tidak akan mempengaruhi.“Ray, lu Ray. Nama lu disebut itu.” Kata Karina sambil menarik earphone yang menggantung di telingaku.“Apa sih Kar? Disebut apaan?” Jawabku sambil membetulkan kembali earphone-ku.“Itu lu Juara 1 Ray. Lu menang.” Katanya antusias sambil menunjuk layar besar yang ada di depan dan memelukku secara terdiam. Terpaku melihat namaku berada di layar besar itu. Dan Karina masih memelukku. Aku merasakan mataku mulai memanas. Genangan air lolos begitu saja diluar kendaliku. Aku menyadari perubahan emosiku. Aku yang menunduk dan berusaha menyembunyikan air mataku merasakan ada tangan yang menggenggamku.“Kamu hebat Ray. Dan semua orang di sini tahu itu. Kamu dan kegigihanmu berhak mendapatkan ini. Sekarang, waktunya kamu menikmati apa yang sudah kamu usahakan.” Dia mengusap air mataku lalu memintaku bergegas naik ke atas panggung untuk menerima acara puncak itu, aku semakin yakin dengan mimpiku. Aku semakin yakin dengan keinginanku. Aku ingin menjadi seniman. Aku ingin terjun di dunia teater yang telah banyak mengajarkanku tentang orang akan berkata, “Teater itu tempat bersandiwara. Kamu tidak akan bisa belajar dari hal-hal bohong. "Tidak. Salah besar orang yang mengatakan itu. Aku merasa lebih hidup ketika mendalami teater. Ternyata, berteater mengajarkan tentang hidup yang sebenarnya. Tentang bagaimana memanusiakan manusia. Tentang bagaimana kita harus mengolah emosi disaat yang lain mungkin tidak bisa meredamnya. Kita, harus lebih peka terhadap sekitar kita. Setidaknya, itulah yang aku dapatkan dalam tiga tahun aku bergabung di teater perguruan tinggi semakin dekat. Setiap siswa sudah mulai mempersiapkan diri untuk mencari perguruan tinggi mana yang akan menjadi tujuan mereka. Tidak terkecuali aku. Aku sibuk mencari universitas yang akan menunjang mimpiku untuk menjadi aku putuskan untuk mengambil salah satu universitas di kota pelajar, aku mendatangi guru BK di sekolahku. Melihat nilai rapor dan portofolio yang aku miliki, guru BK-ku mendukung dan yakin bahwa aku akan mendapatkan salah satu kursi di sana.“Ini sudah bagus. Peluang kamu sepertinya cukup besar. Tinggal kamu minta persetujuan orang tuamu, yah.” Kata guru menghela napas berat. Ini tidak akan mudah. Sepulang sekolah, aku harus langsung membicarakan ini dengan orang tuaku. Aku tidak ingin lagi menjalankan sesuatu yang tidak aku saja. Perdebatan panjang tentang masa depanku terjadi kala aku mengutarakan niatku menjadi seniman. Di sini aku yang akan menjalani perkuliahan. Di sini aku yang akan berjuang selama empat tahun pembelajaran. Di sini aku yang akan mengerjakan tugas dan segala mengembuskan napas berat untuk yang kesekian kalinya. Aku sudah lelah mendengarkan perdebatan panjang mereka.“Yah, bu, kak. Yang kuliah itu aku. Aku cuma minta restu kalian. Aku pengen semua pilihan yang aku ambil di ridhoi Tuhan. Aku gak mau ngejalanin apa yang enggak aku suka lagi. Aku udah besar. Aku berhak menentukan pilihanku sendiri.” Kataku sambil menahan perasaanku.“Aku ingin membuat kalian bahagia. Tapi tentu dengan jalanku sendiri. Dan aku yakin aku pasti bisa. Tolong kasih aku kesempatan. Aku ingin menciptakan kebahagiaan melalui kebahagiaan juga.” Kataku yakin sambil menatap mereka.“Kamu bener, Dek. Kamu juga berhak punya mimpi. Kakak akan dukung kamu.” Ucap kakak keduaku. Entah mengapa rasanya melegakan mendengar itu. Akhirnya, aku memiliki seseorang yang keluargaku masih dan akan terus ragu akan pilihan yang telah aku pilih ini. Tapi, justru inilah yang menjadi pemacuku untuk berkembang dan menunjukkan kemampuanku. Aku, tidak akan membuat kecewa orang-orang yang telah Politeknik Negeri JakartaJurusan Teknik Grafika Penerbitan Sepertisalah satunya cerpen tentang persahabatan. Cerpen persahabatan ini ada yang singkat, ada juga yang panjang, semua tergantung isi konteks dan formatnya. Baca Juga : Alasan Fitri Salhuteru Selalu Bela Nikita Mirzani Lulu akan berangkat meraih cita-citanya esok hari. Ia sangat gugup namun juga senang karena bisa meneruskan kuliahnya di Please enable cookies. Error 1000 Ray ID 7d6f119ca8bdb8ba • 2023-06-14 021600 UTC What happened? You've requested a page on a website that is on the Cloudflare network. Unfortunately, it is resolving to an IP address that is creating a conflict within Cloudflare's system. What can I do? If you are the owner of this websiteyou should login to Cloudflare and change the DNS A records for to resolve to a different IP address. Was this page helpful? Thank you for your feedback! Cloudflare Ray ID 7d6f119ca8bdb8ba • Your IP • Performance & security by Cloudflare CeritaPendek Bertema Budaya Tradisional. Ide cerita pendek bisa berasal dari mana saja. Kehidupan sehari-hari, peristiwa penting, atau cerita pendek bertema budaya tradisional. Semua tema tersebut dapat diolah menjadi kisah indah dan disajikan dalam tulisan sepanjang lima hingga sepuluh halaman. Kali ini saya kedatangan tamu, seorang penulis Cerpen Karangan WardditaKategori Cerpen Keluarga Lolos moderasi pada 1 November 2015 Kukuruyuukk!! kukuruyuuukk!! kukuruyuuukk!! Seperti biasa ayam jantannya Putra berkokok jam 4 pagi, tidak punya jam alarm, ayam jantan pun jadi, Putra bangun menurut kokokan ayamnya. “Huuaahh, hemmzz. Zzz, Zzz” “poaaagg!!!” Putra terjatuh dari tempat tidurnya . “Sialan aku jatuh, uhhh saki, uaaah, hmmmm nyam, nyam, nyam,” Teng! Teng! Teng! suara pintu seng Putra, yang diketok Ibunya. “Putra? Putra? Ada apa nak? Ibu dengar ada suara yang jatuh” Putra, “gak apa ada bu, hehe” tersenyum sambil berdiri “apa? Ngomong yang bener nak,” jelas Ibunya lagi. “ups maksudnya tidak ada apa-apa bu,” jawab Putra yang menjelaskan. Ibu “apa? Buah jambu? Mana–mana? Ibu suka buah jambu. Nanti Ibu bikini rujak.” Putra pun meninggalkan Ibunya keluar rumah mengambil kayu bakar yang dikumpulkan kemarin sore untuk dipakai memasak hari ini. “Sialaaaan, masa sih? dalam rumah ada jambu, udah tua, budek lagi” dalam hati Putra yang kecewa memiliki Ibu yang budek, tapi Putra selalu berdoa kepada Tuhan, walaupun Ibunya sudah tua tapi ia selalu mendoakan semoga Ibunya selalu selamat dalam lindungan Tuhan dan diberikan umur yang panjang untuk selalu menemani Putra. Putra adalah anak yang miskin tinggal di bawah lereng bukit yang berbatuan, walaupun itu sangat berbahaya, tetapi apalah, itu tempat tinggal Putra satu satunya. Putra sebenarnya adalah anak yang sangat cerdas dalam bidang apapun, Putra juga memiliki semangat yang sangat luar biasa untuk menjadi anak yang sukses, dan bisa membuat keluarganya bahagia. Hanya Putralah harapan bagi keluarganya untuk merubah nasib. Putra lulusan anak SMP, sewaktu ia masih duduk di SMP, ia selalu mendapat juara umum dan termasuk murid yang berprestasi di provinsi. Tetapi karena faktor ekonomi yang tidak mendukung, akhirnya Putra tidak melanjutkan sekolah lagi. Dan kini Putra menjadi anak petani yang meniru jejak Ayahnya. Kini umur Putra adalah 16 tahun. Walaupun dia hidup 1 keluarga di rumah itu dan tidak ada tetangga, tetapi Putra tidak pernah merasa kesepian. Karena Putra anak yang pintar pastinya memiliki banyak cara untuk menghibur dirinya, yaitu antara lain, bermain seruling di pinggir sungai sambil memancing dan menggembala sapinya. Putra pulang sore hari dengan membawa ikan pancingannya di sungai dan membawa kayu bakar untuk besok. Putra pulang ke rumah biasanya tampak kelihatan ceria, tetapi kali ini Ayahnya melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh Putra. “Putra anakku? Kemarilah!” suruh Ayahnya. “Ada apa yah?” Jawab Putra lemas. “kemari mendekatlah nak. Ayah dan Ibu mau berbicara denganmu nak..” sahut Ibunya menjelaskan. Putra pun mendekati kedua orangtuanya dengan langkah yang amat lesu. “ada apa denganmu hari ini nak?” Tanya Ayahnya. “tidak ada apa yah, aku hanya kecapean aja yah, jadi aku butuh istirahat.” “tapi Ibu lihat kamu tampak lesu yang tak mempunyai semangat. Ingat tra? Hanya kamu anak Ibu satu-satunya, jika ada masalah sampaikan kepada Ibu atau Ayah nak, jangan seperti ini.” Putra mengerti perkataan Ibunya yang khawatir dengan tindakan dirinya itu. Putra sendiri tidak mengerti kenapa dia berbeda seperti hari sebelumnya. Dan secara kebetulan pendengaran Ibunya baik. “nak?” Panggil Ayahnya lagi. “iii, ii, iyaa yah. A-ak.. akuu memikirkan sesuatu yah” “apa itu nak? Katakan pada Ayah” “aku ingin sekolah yah,” dengan berat hati dia menjawab pertanyaan Ayahnya dengan sejujurnya dan tidak disengaja mengeluarkan perkataan seperti itu. Ibu Putra langsung menangis dan memeluk Putra. Sebenarnya Ibunya tidak setuju kalau Putra bersekolah. Karena tidak mempunyai biaya sekolahnya. Dan Ayahnya pun langsung bengong dengan keinginan anaknya yang begitu bersemangat untuk sekolah. “maafkan Ayah nak? Bukan Ayah tidak memberimu sekolah, tetapi pandanglah Ayah dan Ibu nak? Setiap hari banting tulang mencari kerja, hanya untuk makan. Dan itu pun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan harian kita. Tolonglah nak? Mengerti dengan keadaan.” jawab Ayahnya dengan meneteskan air mata karena tidak mampu mendorong anaknya untuk maju. “Mana tanggung jawab Ayah menjadi kepala keluarga? Aku bosan jadi anak bukit yah? Aku ingin jadi anak sekolahan seperti dulu yah?” jawab Putra dengan lancang dan sambil menangis menuntut Ayahnya sebagai kepala keluarga. “jika kamu ingin bersekolah silakan nak? Jual semua sapi, babi, ayam, dan burung Ayah, jika itu akan mendukungmu untuk sekolah, Ayah tidak punya uang sedikit pun untuk membekalimu nak. Keesokan harinya. Putra seperti biasa bangun lebih pagi, dan mempersiapkan alat-alat yang akan dibawa ke tempat umum. Namun Putra tidak memiliki rasa kasihan kepada kedua orangtuanya yang sudah bekerja keras, dan kini hasilnya ia bawa semua demi bisa sekolah. Matahari pun mulai terbit. Ayah dan Ibu Putra telah menyiapkan saran pagi, dan sebelum Putra berangkat mereka sekeluarga makan bareng dan saling tersenyum bahagaia walaupun semua miliknya akan habis terjual demi anaknya. Selesai sarapan Ayah dan Ibu mengantarkan Putra ke luar daerah bukit itu yang jauh dari tempat umum. “tra? 1 pesan Ibu padamu, jangan kau jadikan uang foya-foya dari hasil penjualanmu nanti,” “iya bu saya janji” sahut Putra. Sesampai di pasar. Sapi dan yang lainnya laku terjual. Dan kini uangnya seperempat diberikan untuk Ibu dan Ayahnya untuk membeli makanan. Namun kedua orangtuanya menolak itu dan diberikan sepenuhnya kepada anaknya agar tidak kekurangan uang di perjalanan nanti. Mereka bertiga berpelukan sambil bersedih akan berpisah. “yah? Jaga Ibu baik-baik! aku akan kembali setelah aku sudah menjadi orang sukses,” “jangan nak! jika kamu sudah gagal, kembalilah ke rumah, Ayah tak kan marah padamu. Pintu rumah selalu terbuka untukmu”. Mereka pun berpisah, dan Putra menaiki bus untuk menuju ke kota. Di perjalanan Putra berpikir, dengan uang sedikit itu, tidak akan mampu mencukupi kehidupannya di kota. Putra meneteskan air mata dan mengingat Ayah dan Ibunya di rumah yang tak bisa berpisah. Putra menyesal telah menjual semua punya orangtuanya. Dia merenung sambil menangis dengan perpisahan ini. Ayah dan Ibunya pun merasakan hal yang sama seperti Putra. Biasanya setiap hari mendengar alunan seruling yang dimainkan oleh Putra. Dan kini sepi dan sunyi di dalam rumah itu, Ayah dan Ibu Putra berdoa agar Putra berada dalam lindungan tuhan. Belum sampai di kota Putra berhenti di tengah perjalanan, dan menyetop bus untuk kembali pulang. Dia sadar bahwa dirinya tak akan mampu sendiri di tengah kota. Sampai di desanya ia segera kembali ke rumah. Sampai di rumah Putra melihat kedua orangtuanya bersedih karena berpisah dengan anak kesayangannya. “Bu? Yah? aku kembali..” suara dari pintu, Ayah dan Ibu Putra pun menoleh ke arah pintu itu, dan dilihatnya Putra yang berdiri dengan raut wajah yang bersedih dan air matanya yang berlinang. Mereka pun kembali berpelukan. “Ayah? Ibu? Aku kembali karena aku tak akan sanggup menanggung hidup sendirian di tengah kota. Aku mau menjadi pengusaha di sini saja yah? Bu? aku ingin selalu di dekat Ayah dan Ibu” kata Putra. Putra mulai membangun pondok dekat sungai yang di kelilingi pohon yang sejuk dan hijau. Selesai membuat pondok itu, Putra meniup serulingnya yang sangat merdu dan ditemani suara air yang mengalir. Kemudian selanjutnya Putra dan Ayahnya membuat kandang yang sangat besar karena akan melakukan jual beli sapi. Satu minggu. Kandang sudah penuh dengan sapi, Putra pergi ke pasar untuk menawarkan sapi yang gemuk dan bersih. Semakin hari semakin banyak yang membeli sapi dan ayam di rumah Putra, kemudian salah satu saudagar sapi ke rumah Putra untuk melihat suasana di perbukitan, ternyata saudagar itu memiliki kesan yang sangat bagus di daerah itu dan mencari suara seruling yang merdu, dan itu adalah Putra. Saudagar itu tertarik dengan pemandangan dan suasana daerah itu, sehingga dia memberikan sumbangan kepada Putra untuk mendirikan sebuah kost kecil. Bukan hanya ternak saja yang dijual oleh keluarga Putra, tetapi juga menjual berbagai tanaman obat, makanan, atau tanaman hias lainnya. Dengan penghasilan yang sedikit demi sedikit. Putra mampu mendirikan sebuah hotel di tepi sungai dan dikerumbuni banyak pepohonan. Setelah hotel itu jadi banyak turis yang berdatangan ke sana, karena sejuk dan tenang. Semua turis meraskan kenyamanan di sana, dan Putra kembali membangun rumah makan dan memperbanyak ruangan tidur untuk para turis, dan pada akhirnya mereka sekeluarga menjadi pengusaha yang sangat kaya. Kini nama Putra sudah tersebar ke seluruh desa dan wilayah. Jadikan kelemahan sebuah kunci utama meraih kesuksesan dan menggapai semua impian atau cita-cita yang diinginkan. Belajar adalah awal meraih impian, dan impian adalah sebuah keyakinan diri sendiri untuk bisa maju dengan sempurna. The End Cerpen Karangan Warddita Facebook Warddita Cerpen Menggapai Cita Cita merupakan cerita pendek karangan Warddita, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Kesakitanku Oleh Ratna Susantyningsih Mata ini panas kembali. Teringat semua yang sudah berlalu. Aku selalu ingat tentang semua yang kau ucapkan padaku. Semua yang telah membuat hati ini menjadi sebuah serpihan, layaknya paku-paku Rara Pengen Masuk SMA Oleh Aurelya Irna Candida Pelajar kelas 9 tentu memikirkan mereka akan melanjutkan sekolah selanjutnya dimana, itu adalah hal wajar. Seperti aku saat ini, aku sedang bimbang antara ke SMA atau ke SMK. Sejujurnya Doa Permohonan Surga Untuk Ibu Oleh Melly Windarti Semua orang duduk bersila menantikan sebuah ceramah, tapi siapa sangka bahwa semua itu hanya dusta. Dari sekian banyak jamaah, ada yang sibuk bicara, ada yang sibuk mengunyah bahkan ada Hatimu Hatiku Oleh Vixia Ariestya Kenalin gue Rama cowok terganteng di Indonesia itu kata nyokap gue. Gue punya saudara kembar yang menjadi saingan kegantengan gue karena mirip. Walau sebenernya lebih ganteng gue dikit. Walau Aku, Gadis Keripik Singkong Oleh Riska Yupitasari “Febi, ini keripiknya sudah siap.” Terdengar suara Ibu memanggilku. Aku pun datang menghampirinya di dapur untuk mengambil keripik yang sudah tersusun rapi di keranjang. “Iya, bu. Ya sudah, aku “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?" Sebelummembahas mengenai bagus atau tidaknya menjadi seorang guru, mari kita membahas tentang seberapa pentingnya seorang anak untuk memiliki cita-cita. secara perlahan-lahan Anda bisa memberikan pengertian kepada anak Anda tentang cita-cita yang sesuai dengan kemampuannya. guru juga memiliki jam kerja yang lebih singkat dibandingkan
Buat kalian yang lagi nyari contoh cerpen tentang cita-cita, saya yakin cerpen tentang mengejar cita-cita dibawah ini akan berguna bagi Anda. Saya katakan berguna, karena cerpen berikut ini memberikan pesan sosial dan motivasi yang cukup berarti. Seperti apa ceritanya? Langsung saja, selamat membaca! Ternyata ke Korea Itu Sangat Murah Nginap di Hotel Tokyo Servisnya Bikin Nyut-nyut! Quebec Bikin Gak Mau Pulang! Cerpen Cita cita Disebuah desa kecil terdapat seorang remaja bernama Adi bukan nama sebenarnya. Adi tumbuh besar bersama bibik dan neneknya. Namun, nenek Adi lah yang banyak berkontribusi dibalik keberlangsungan hidup Adi. Orangtua Adi pergi merantau ke negeri seberang, sehingga ia harus tinggal bersama bibik dan neneknya. Sebagai momongan si nenek dari kecil, nenek Adi sangat peduli terhadap Adi. Nenek tersebut bahkan rela melakukan hal-hal yang belum tentu sangguh di lakukan oleh nenek-nenek lain pada umumnya. Pengorbanan sang nenek untuk Adi memang luar biasa sehingga tidak heran ketika Adi menginjak usia remaja ia sangat memprioritaskan neneknya. Ketika memasuki usia remaja, Ada mencoba untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan skill-nya. Adi memiliki pengetahuan yang cukup di bidang komputer dan manajemen. Adi memiliki obesesi kuat di bidang teknologi, khususnya komputer dan web. Tidak mengherankan jika kemudian remaja ini banyak mengerti tentang aplikasi komputer. Adapun kemampuannya di bidang manajemen diperolehnya dari pola pikirnya sendiri yang cenderung teoritis dan investigatif. Untuk mendapatkan pekerjaan sesuai kriterianya, Adi telah mengajukan surat lamaran ke sekian banyak perusahaan swasta. Selama proses mendapatkan pekerjaan tersebut, sebenarnya cukup banyak perusahaan yang tertarik dengan Adi. Namun sayang, sebagian darinya tidak sesuai espektasi Adi termasuk gaji yang terlalu rendah sehingga ia memutuskan untuk tidak bergabung di perusahaan-perusahaan tersebut. Cari Loan / Kredit Terbaik? Kredit Mobil Kurang Puas? ACC yang Perlu Kamu Tau! Meskipun jalannya sangat terjal, namun Adi tidak pernah patah semangat. Ia tetap berusaha dengan gigih untuk mendapatkan pekerjaan yang menurutnya layak. Ia pun berusaha untuk menggali lebih banyak informasi lowongan kerja agar bisa menemukan pekerjaan yang ia inginkan. Bermacam sumber informasi ia telusuri, mulai koran, kantor pos, radio, hingga situs web penyedia info lowongan. Pada akhirnya Adi mendapatkan sebuah pekerjaan, sayangnya pekerjaan tersebut berada di luar Jawa. Namun, Adi tetap memutuskan untuk kerja di perusahaan tersebut. Ia pun berangkat dan langsung aktif bekerja disana. Bagi Adi bekerja di perusahaan tersebut sejatinya hanya untuk menimba pengalaman, karena ia merasa bahwa skala perusahaan tersebut tidak mungkin mampu merealisasikan cita-cita Adi yang ingin menjadi pria yang matang baik dari sisi sosial maupun finansial. Setahun bekerja di perusahaan tersebut, Adi akhirnya memutuskan untuk resign secara baik-baik. Adi kemudian pulang kampung sambil memikirkan sederet ide yang ada di otaknya. Selama berada di rumah, perusahaan tempat Adi bekerja sebelumnya sebenarnya mengharapkan Adi untuk kembali. Perusahaan tersebut bahkan bersedia memberi kenaikan gaji secara signifikan, namun demi tetap berada pada track cita-citanya, Adi menolak tawaran dari perusahaan lamanya. Waktu terus berjalan, dan Adi masih belum mendapatkan pekerjaan baru. Namun, tangan, kaki, dan pikiran remaja ini tidak pernah diam. Ia selalu memikirkan tentang sesuatu yang lebih besar – yang lebih bernilai. Dan pada akhirnya skill dan obsesinya di bidang komputer dan web membuatnya memiliki bisnis baru yang bisa ia bangun dengan suka-cita dan sepenuh hati. Ia pun terus menekuni pekerjaannya yang baru itu, dan kini kehidupannya terlihat semakin mapan. Pesan Sosial Jalan manusia tidak pernah sama. Ada yang biasa-biasa saja, ada yang sedikit berliku, dan ada yang sangat terjal. Namun, semua itu hanya bagian dari proses. Sulit tidaknya suatu tantangan sebenarnya sangat bergantung pada tingkat kesiapan orang itu sendiri. Jika kita lemah, takut, apalagi malas, maka semudah apapun jalan kita ia akan selalu terlihat sulit. Cari Loan / Kredit Terbaik? Ternyata Begini Cara Bisa Beli Mobil Materi Asuransi Paling LengkapCitacita saya menjadi orang yang sukses dan berguna untuk orang orang disekeliling saya (amin), dan saya ingin menjadi enterprenuer serta memiliki bisnis yang saya idam idamkan pada masa sma. Bagaimana cara membina persatuan dan kesatuan 26 april 2022; Sebenarnya banyak, ada yang ingin jadi guru, insinyur, polisi, ataupun pelaut. Hari minggu,2 september 2012 tepatnya minggu setelah hari raya idul fitri sangat menggembirakan dan tidak akan pernah kulupakan karena hari itu adalah haridimana aku dapat membeli raket bulutangkis sendiri dengan uang tabunganku dan sedikittambahan dari uang membeli raket baru karena raketku yang selama ini akugunakan senarnya sudah aku dapat membuktikan bahwa aku telah berusahauntuk mendapatkan apa yang aku hal ini ya raket bulutangkis karena akumendapatkan uang dengan mengikuti program beasiswa dari baitul mall bina ummahBAMBU yang setiap bulannya mengadakan pertemuan rutin dan jika berangkat akanmendapat tambahan uang ke itu aku juga mendapatkan uangsaku dari keseharianku yang mengajar ngaji di Lembaga Pendidikan Alquran satu bulan sekali aku dan dua temanku yang lain diberi uang saku yang jumlahnya berusaha dan berfikir untuk menyisihkan uang supaya kelak jikaada kebutuhan mendadak aku tinggal mengambil dari uang tabungan lebaran,saya berfikir untuk membeli raket bulutangkis baru dengan uang tabungankudan sedikit tambahan uang lebaran .Aku membeli raket baru karena memang sejak kecil akumenyukai olahraga tepok bulu badminton mempunyai cita – cita untukmenjadi atlet bulutangkis,tetapi karena kondisi keuangan kedua orang tuaku yang tidakmencukupi untuk mendaftarkan aku ke klub aku hanya berdoa ada orang yang mau membantu memberi saya beasiswa berbicara dan miminta izin untuk membeli raket kepada orangtuaku merekamenyetujui aku dan ayahku berangkat ke toko alat olahraga ditempat mas Yosi yang sering menjadi langgananku sewaktu senar raketku akutidak ingat kalau toko mas Yosi itu tidak buka hari aku dan ayahku pergi kelilingke jalan – jalan untuk mencari toko olahraga yang buka hari lama kesana – kemari akhirnya aku dan aya h menemukan toko yang buka yaitu di toko “INDAH JATISPORT”.Disana ternyata ada lebih banyak pilihan jenis raket dibandingkan dengan toko“YOSI”.Setelah memilih – milih berbagai jenis dan merk rakit akhirnya aku memilih raket dengan merk “YONEX ANMORTEX”.S etelah membeli raket aku tidak langsung pulang,akumasih melihat – lihat lagi alat yang sesuatu yang menarik yaitu sepatu olahragatetapi aku ingat apa kata ibu ku bahwa aku tidak diperbolehkan untuk membeli sepatu sportkarena kata ibu aku jarang memakai sepatu untuk olahraga karena aku sibuk sekolahmungkin aku hanya olahraga tiga sampai empat kali saja dalam satu minggu karena akuruku harus fokus ke aku menginginkan sepatu sport,aku juga tertarik dengan tasraket yang sering dibawa oleh para atlet saat bertanding di lapangan internasional padasebuah ingin membeli dua benda tersebut tetapi karena uangku hanyatinggal beberapa saja masih belum cukup untuk membeli benda memutuskan untukpulang dan kembali lagi ke toko ini untuk membeli sepatu dan tas perlengkapan tersebut jika aku sudah mengumpulkan uang dan uangku cukup untuk sampai rumah aku bergegas untuk mencoba raket baruku karena aku sudah tidaksabar ingin bermain bulutangkis karena setelah raketku yang dahulu putus aku menjadi raguuntuk bulutangkis takut kalau shuttlecock ku malah mencoba raket baruku untukbertanding dengan karena aku terlalu bersemangat ayahku lelah dan tidakmau melanjutkan aku pergi kerumah temanku untuk saja dia mau aku ajak untuk bermain bulutangkis adakejadian yang membuat kami harus menghentikan permainan karena raket milik mbak berlanjut ke hari senin sore, temanku meminta aku untuk menemani membeli rakettetapi mbak Feni tidak tahu toko yang menjual lalu mengantarnya ke tempat masYosi langgananku memilih jenis raket dan selesai membayarnya,kami berduapulang dan mencoba bermain bulutangkis dengan raket kami berdua yang sama – saat itu kami berdua selalu bermain bulutangkis setiap aku yangke rumah dia ataupun sebaliknya dia yang ke senang mempunyai temanseperti mbak Feni ,bahkan lebih dari adalah sahabatku sahabat yang selalu adauntuk memberi semangat disaat aku terpuruk dan kehilangan tujuan bahkan dia selalumemberi aku semangat untuk selalu berlatih karena hanya dia teman yang tahu jika akubercita – cita menjadi “is MY BEST FRIEND” karena dia selalu ada disaat aku sedih maupun ada hari yang kami berdua sama – sama tidak bisa bermain bulutangkis bersamakarena kami mingajar ngaji anak – anak TPA di masjid yaitu hari senin,rabu, itu bukan masalah dan aku tidak keberatan dengan kegiatan itu karenabagaimanapun juga berbagi ilmu untuk orang lain itu baik dan mudah – mudahan mendapatberkah masih ada hari lain untuk bermain bulutangkis bulan setelah lebaran memang lebih terasa kangen dengan bulutangkis karenaolahraga yang selalu rutin aku mainkan setiap satu minggu tiga kali sekarang hanya adawaktu satu hari untuk bulutangkis karena kesibukanku yang semakin tidak ada juga akhir – akhir ini jarang bermain bulutangkis berdua dengan mbak Feni karena kamiselalu sibuk dengan sekolah masing – Feni yang sedang beradaptasi dengansuasana sekolah barunya dan aku yang sedang sibuk untuk fokus ke UNAS yang hanyatinggal beberapa bulan ingin memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuakudan untuk orang – orang yang menyayangiku. KataKata Motivasi Sukses yang Akan Membangkitkan Kembali Semangat Anda. Kumpulan kata-kata motivasi sukses dalam artikel ini akan membangkitkan lagi semangat Anda yang mulai meredup. Anda bisa pula membagikannya kepada orang-orang tercinta yang tengah membutuhkan inspirasi dan motivasi. Tak perlu berlama-lama, langsung saja simak uraiannya.
PerbesarSumber Foto iStockKarya Lucky Nur Haliza Pena Pijar, Cerpen – Dengan semangatnya yang tak pernah padam Disa seorang gadis kecil yang memiliki sejuta impian untuk merubah nasib dengan keterbatasan ekonomi keluarganya, berusaha meraih impian untuk memperbaiki keadaannya yang serba kekurangan. Dia bercita-cita menjadi seorang guru dan bergelar sarjana, namun keadaan yang saat ini di alaminya sangat tidak memungkinkan untuk Disa melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih adalah seorang gadis kecil yang masih duduk di bangku SD namun pemikirannya untuk masa depan dan cita-citanya sudah jelas ia pikirkan dengan umurnya yang masih berusia 10 tahun ini. Anak perempuan pertama yang menjadi harapan besar bagi keluarganya membuat dia di tuntut untuk menjadi gadis dewasa sebelum waktunya, memikirkan banyak hal yang seharusnya belum dia pikirkan, melakukan banyak hal yang menyita waktu bermain dengan teman sebayanya. Disa sang gadis kecil dengan semangat yang besar dan tak pernah sedikitpun menyalahkan keadaan yang ia alami saat demi hari ia lalui dengan sabar dan penuh keihlasan membantu orang tuanya berjualan kue dan gorengan untuk di antar ke warung-warung di sekitar rumahnya, pergi ke suatu ladang kecil milik orang tuanya untuk memanen hasil tanaman yang mereka tanam untuk menyambung hidup mereka. Dengan banyaknya kegiatan tersebut tidak mengurangi semangat Disa untuk belajar demi meraih cita-citanya menjadi seorang guru ia ingin sekali memiliki banyak ilmu dan mengajarkannya kepada generasi muda di masa yang akan datang. Menurut pandangannya kehidupan yang ia alami sekarang juga karena kedua orang tuanya tidak memiliki ijazah dan hanya menempuh pendidikan SD selama beberapa tahun saja itupun tidak sampai lulus sehingga kurangnya pengetahuan dan keterampilan membuat orang tuanya hanya bisa bekerja menjadi seorang hari ketika Disa sekolah ia di tanya oleh seorang guru yang mengajar di kelasnya, guru tersebut bertanya apakah cita-cita Disa ketika besar kelak dan Disa pun menjawab ia ingin menjadi seorang guru yang mengajarkan banyak ilmu kepada murid-muridnya menjadi guru yang bisa mengajarkan banyak hal yang ia tau, karena menurutnya berprofesi sebagai guru sangat mulia dan menyenangkan yaitu mendidik dengan baik untuk menciptakan generasi unggul di masa depan begitulah gambarannya mengenai terasa Disa si gadis kecil kini tumbuh menjadi gadis remaja yang duduk di bangku SMA sebentar lagi ia akan mengikuti ujian akhir kelulusan dan akan segera lulus. Dengan semangat dan ketekunan dalam belajar akhirnya Disa dinyatakan lulus dengan nilai ujian terbaik , tibalah saat dimana Disa kini bimbang untuk melanjutkan kuliah atau hanya lulus SMA lalu melanjutkan bekerja ia khawatir bahwa orang tuanya tidak menyetujui jika ia akan melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya dan keadaan ekonomi yang sulit. Ketika Disa sedang berjalan menuju kelas ia di panggil oleh wali kelasnya jadilah perbincangan antara Disa dan wali kelas, dimana sang wali kelas mengatakan bahwa menyarankan Disa untuk melanjutkan kuliah karena melihat nilai yang sangat memuaskan dan kemampuan akademik yang sangat baik selama ini, Bu Dian juga mengatakan jangan memikirkan biaya ia bisa mengikuti bea siswa sehingga kuliahnya di rumah Disa memberitahukan kepada orang tuanya tentang apa yang dibicarakan wali kelasnya ketika di sekolah tadi, ia menyampaikan dengan sangat hati-hati agar bisa mendapatkan izin untuk melanjutkan pendidikannya. Akhirnya dengan penjelasan Disa yang dapat meyakinkan orang tuanya ia di setujui untuk bisa kuliah, keesokan harinya ia mengatakan kepada wali kelasnya bahwa orang tuanya menyetujui ia kuliah dan dapatlah Disa pembekalan untuk mendaftar kuliah dengan jurusan yang sangat ia cita-citakan sejak di bangku SD. Kini ia hanya menunggu hari dimana pengumuman kelolosan kuliah di umumkan. Waktu berjalan begitu cepat tibalah saatnya pengumuman itu di umumkan dan ia di nyatakan lolos di tambah dengan mendapatkan bea siswa sampai ia lulus kini sudah mulai mewujudkan cita-citanya ia mulai mengajar di desa terpencil di dekat tempat tinggalnya mengajar gratis untuk mereka yang terpaksa putus sekolah bahkan ada yang tidak bersekolah sama sekali. Ada sekitar 7 orang anak yang di ajar oleh Disa ia memberikan buku serta alat tulis lain secara gratis kepada mereka hingga sampai saat ini anak-anak seusia anak SD yang di ajar Disa semakin bertambah bahkan ia mempunyai partner mengajar satu kampus untuk membantu ia karena muridnya yang semakin hari semakin bertambah akhirnya Disa mendapatkan dukungan baik dari warga sekitar sehingga mereka saling membantu dan menyumbang bantuan uang untuk membangun tempat mengajar yang layak dan keperluan mengajar yang lain sampai pada akhirnya Disa menjadi seorang guru yang berhasil mendirikan sekolah-sekolah gratis di berbagai pelosok desa. Itulah cerita tentang Disa gadis kecil yang memiliki keterbatasan ekonomi keluarga yang harus mengorbankan waktu bermainnya demi bisa membantu orang tuanya hingga menjadi gadis dewasa yang sukses meraih 20 Maret 2022Artikel ini telah dibaca 2,583 kali Penulis Perjuangan untuk Meraih Cita 23 Maret 2022 Mimpi 25 April 2022 Terjebak Rasa dan Hilang 31 Maret 2022 Kilas Balik 28 Mei 2022 Keluarga Kecil di Surga 7 Februari 2022
Ceritainspiratif tentang Pendidikan bisa membangkitkan minat untuk belajar dan memiliki cita-cita yang semakin tinggi. Karena dengan upaya dan doa semua yang mustahil akan menjadi mungkin. Isu Pendidikan yang belum merata di Indonesia masih hangat untuk dibicarakan. Namun semoga tidak hanya berhenti pada pembicaraan saja tetapi ada tindakan
Cerpen atau cerita pendek, yaitu sebuah cerita yang berbentuk prosa fiksi atau imajinasi dari pengarang. Cerpen biasanya dibaca sekali duduk, artinya cerpen tidak menggunakan kata yang banyak. Biasanya cerpen pun hanya memiliki jumlah kata tidak lebih dari kata. Dibawah ini merupakan contoh cerpen yang bertema peristiwa perjuangan dalam menggapai impian untuk kesuksesan. Untuk lebih lengkapnya mari simak ceritanya berikut ini Contoh Cerpen Tentang Perjuangan Meraih Mimpi & Cita-Cita Hilang Tanpa Harapan Abdullah adalah seorang anak kecil yang mungil dan juga lugu. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya. Saat akan pergi ke rumah pamannya di desa sebrang, ia berpapasan dengan salah satu anggota TNI yang menjaga daerah perbatasan di desanya. TNI itu tersenyum kepadanya dan ibunya. Lalu ia bertanya pada Emaknya. "Siapakah dia Mak?" tanyanya sambil melihat wajah sang Emak. "Dia adalah pasukan TNI nak, yaitu Tentara Nasional Indonesia. Ada apa? " jawab sang Emak. "Aku ingin menjadi sepertinya Mak. Dia baik, dia menjaga kawasan kita. Dia juga terlihat ramah Mak." Tuturnya pada sang Emak. "Emak hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu nak, kamu mau jadi seperti apa dan siapa, kamu yang menentukan sendiri rumah paman, sambil menunjuk ke salah satu rumah yang berwarna kuning dipaling pojok kita sudah sampai. " "Iya Emak , ayoooo Mak cepat kesana " Abdullah berlari sambil berjingkrak -jingkrak menyambut pertemuan nya dengan sang paman. Baca Juga Contoh Teks Cerita Sejarah Cerpen Terbaru Sesampainya dirumah pamannya, ia masuk dan berbincang dengan paman serta bibinya. Setelah itu ia keluar untuk mencari angin segar. Wajah sang anggoaa TNI terngiang - ngiang dikepalanya lalu ia membayangkan kelak dia bisa menjadi sepertinya. Suatu hari Abdullah akan berangkat sekolah, dia sudah menamatkan pendidikan sekolah dasarnya dengan baik di daerahnya dan sekarang menjadi siswa MTS N 1 Keude Kreung Geukeuh. Ia termasuk siswa yang rajin dan juga selalu masuk dalam peringkat 5 besar disekolahnya. Setelah lulus dari MTS, ia kemudian melanjutkan sekolah di SMA N 1 Lancang Barat dan masih mampu mempertahankan restasinya sampai di jenjang SMA nya itu. Namun, saat memasuki semester ke lima nilainya tiba - tiba menurun karena dia terlalu sibuk dengan acara OSIS dan ia lupa untuk belajar. Nilai ulangannya beberapa berada dibawah batas tuntas. Saat pulang kerumah, ia meletakkan hasil nilainya itu dimeja belajarnya seperti biasa yang ia lakukan. Emaknya selalu mengeceknya ketika hasil ulangannya keluar. Dan saat pagi hari setelah Abdullah berangkat sekolah, Emaknya masuk ke kamarnya dan mengecek nilai - nilai ulangan anaknya itu. Namun tak disangka, nilai yang biasanya mendekati angka sempurna tapi kini yang dilihatnya adalah nilai berwarna merah. Emaknya merasa heran dengan nilai anaknya itu. Seharian Emaknya memikirkan hal hal yang mungkin membuat nilai anaknya turun. Didalam benaknya ia bertanya - tanya "Apakah Emak yang salah? apakah Emak terlalu menekannya? apakah Emak kurang memperhatikannya akhir - akhir ini?" Ia mulai merasa tak karuan. Sesampainya Abdullah dirumah,ia langsung menemui Emakya. Ia tahu Emaknya pasti telah membaca nilai merahnya itu. Dan sekarang ia sudah siap untuk mendapatkan nasihat dari Emaknya itu. Abdullah kemudian mmenghampiri Emaknya yang sedang duduk dimeja makan sambil mencium telapak tangannya. Emaknya kemudian menyuruhnya duduk. "Dul kenapa nilaimu merah begini?" tanya sang Emak sambil menyodorkan kertas berisikan tulisan nilai berwarna merah itu. "Maafin Abdul Mak, Abdul tidak belajar waktu mau ulangan. " Jawab Abdul seadanya dan mulai menundukkan kepala. "Kenapa nak?" tanya sang Emak kembali. "Abdul kecapean Mak waktu itu, Abdul terlalu sibuk dengan acara OSIS yang jadi tugas terakhir Abdul. Maafin Abdul Mak." Jawabnya, sambil kemudian mulai menurunkan lututnya ke tanah dan mencium tangan Emaknya. "Ya sudah nak, jangan kau ulangi lagi macam hal ini. Emak maafiin Abdul, sekarang makan lalu mandi! " Lalu Emaknya keluar rumah untuk menghilangkan rasa penatnya hari ini. Sedari SMP Abdul memang selalu masuk kedalam Organisai siswa itu karena membuatnya belajar banyak. Disana, ia mendapatkan berbagai pengalaman yang tak tertandingi baginya. Hari - harinya ia lewati dengan penuh syukur atas nikmat yang telah diberikan. Kegiatan setiap hari sepulang sekolah ialah berolahraga. Cita - citanya yang masih ia genggam erat sedari kecil menjadikannya gigih berlatih baik fisik maupun yang lainnya. Sore hari, ketika ia sampai dirumah setelah pulang sekolah, ia masuk ke rumah dan kemudian mencium tangan Emak dan Abinya. Ya, mungkin Abdul memang harus bersyukur karena kedua orang tuanya masih ada bersamanya walaupun keadaan ekonomi mereka masih dianggap kurang. Ia tak mempermasalahkannya. Setelah tiga tahun lamanya, besok adalah saat yang menentukan bagi dirinya dimana ia harus bertempur menghadapi soal - soal materi yang telah ia peroleh selama belajar 3 tahun di SMA nya itu. Sekarang ia sedang duduk bersama Emaknya di depan rumah sambil mengobrol. "Mak kalau besok nilai Abdul bagus, Abdul mau daftar jadi TNI ya Mak?" tanyanya pada sang Emak. "Apa kamu mengerti nak sulitnya lolos seleksi untuk menjadi anggota TNI itu?" Jawabnya sembari mengingatkan. "Abdul paham Mak. InsyaAllah Abdul akan berjuang keras untuk bisa lolos seleksi itu Mak. Selama ini juga Abdul sudah berlatih apapun yang bisa Abdul lakukan." Jawabnya memantapkan hati sang Emak. "Terserahmu saja. Emakmu ini hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Jawabnya dengan nada pasrah. "Iyo Mak, Abdul paham. Abdul akan berjuang yang terbaik untuk Emak sama Abi." Ucapnya. Setelah obrolannya itu selesai, ia masuk kedalam kamar dan mulai membaca tulisan demi tulisan yang harus ia pelajari untuk persiapan ujiannya besok. Setalah seminggu lebih lamanya ia melewati hari - hari yang menegangkan itu, kini ia sudah terbebas dari semua pelajaran. Di sekolah ia hanya bermain - main dengan temannya sembari memikirkan kemana ia selanjutnya akan melangkah. Banyak diantara teman - temannya yang akan melanjutkan kuliah di universitas - universitas terbaik di Indonesia seperti UI, ITB, UGM dan yang lainnya. Namun bagi dirinya, itu tidak cukup menarik untuk menjadi pilihannya. Walaupun guru - guru disekolahnya juga menyarankannya untuk melanjutkan kuliah karena melihat nilai raport nya yang selalu bagus dan mendapat peringkat dikelasnya. Hari ini, hari yang saat iya tunggu dimana nilai ujian akan keluar dan menentukan kelulusannya. Ia tahu persis bahwa untuk menjadi seorang TNI nilainya hanya perlu diatas standar KKM yaitu 75, namun baginya iya harus melampui nya agar memudahkannya dalam mengejar cita - citanya itu. Ya setelah menunggu beberapa jam lamanya, tiba saatnya pengumuman itu tiba. Tak disangka iya mendapat nilai 55 dari nilai total 60 dan mendapat peringkat 3 terbaik jurusan IPA disekolahnya. Sungguh prestasi yang luar biasa baginya. Tanpa disadari, kini ia terduduk lalu bersujud syukur atas apa yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Sesampainya dirumah, ia langsung memanggil - manggil Emak dan Abinya untuk berbagi kebahagiaan yang ia dapatkan siang ini. "Abi, Emak alhamdulillah nilaiku bagus. Aku mendapat nilai 55 dari 60 Mak. Dan yang ngga aku sangka Mak, aku mendapat peringkat 3 terbaik disekolahku Mak. " Ucapnya kepada kedua orangtuanya. Emaknya terharu bukan main atas prestasi yang didapatkan anaknya itu. Kemudiam Emaknya langsung memeluknya dengan dekapan yang kuat. "Abdul kamu memang yang terhebat. Kamu anak Emak satu - satunya. Kamu selalau membanggakan Emakmu ini. Maafkan Abi sama Emak yang ngga bisa menuhin semua kebutuhan kamu. " Ucapnya pada anak saya wayangnya itu. Air mata kini mulai menetes dibahu Abdul. Dan kini sang Abi yang kemudian mulai memeluk nya kini. " Abi bangga sama kamu nak. Abi doakan kamu sukses ya nak, ngga seperti Abi sama Emak yang hanya bekerja jadi buruh tani. " "Abi, Emak, Abdul ngga mempermasalahkan itu. Ini sudah takdir dari yang Maha Kuasa. Sekarang Abi Sama Emak berdoa ya buat Abdul. Abdul mau daftar seleksi untuk menjadi seorang TNI. Abi sama Emak merestuikan keinginan Abdul? " "Abi sama Emak terserah sama kamu nak. Yang penting pekerjaan yang kamu lakukan halal dan bisa membawamu untuk hidup yang lebih baik kedepannya. Dan pesan Emak jangan pernah kamu tinggalkan sholatmu. Abi dan Emak akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. " Doanya untuk anaknya. Kini ia mulai mendaftarkan dirinya menjadi prajurit negara, yaitu TNI yang sudah ia cita - citakan semenjak ia kecil. Ia mengisi formulir yang ada dan kemudian mulai mempersiapkan berkas - berkas yang harus ia serahkan. Setelah melewati itu, kemudian ia mengikuti tes tertulis dan wawancara beberapa hari kemudian. Setelah tes demi tes, seleksi demi seleksi iya jalani tinggal menunggu hasil yang akan di umumkan besok. Dia mulai resah dengan apa yang sedang dijalani. Ia takut kalau sampai ia tidak lolos. Ia bingung harus melanjutkan apa nantinya bila ia tidak diterima sebagai TN karena ia tidak tertarik pada pekerjaan yang lainnya Kemudian ia menemui Emaknya untuk sekedar melepas resah dan kejenuhan pikiran dan hatinya itu. "Emak, kalo semisal Abdul ngga lolos jadi seorang TNI, apa Emak akan kecewa? " "Kamu sudah berusaha yang terbaik semampumu nak. Untuk masih hasil itu serahkan saja smaa yang Maha Kuasa." tutur Emaknya. "Iya Emak." Setelah itu ia kembali menuju kamarnya dan sambil berpikir tentang apapaun konsekuensi yang akan ia hadapi besok. Dia bangun dari tempat tidurnya lalu mengambil air wudhu untuk sholat subuh pagi ini. Hati dan pikirannya masih tak karuan memikirkan hasil yang akan keluar pagi ini. Sebelah shalat ia kemudian mengangkat tangannya dan berdoa untuk apapun jalan yang sudah Allah tuliskan untuknya. Ia berangkat bersama Abi dan Emaknya menuju tempat pengumuman tes diamana cita - citanya itu akan tercapai atau hanya akan menjadi angan - anginnya saja. Setelah beberapa panitia menempel daftar nama yang lolos seleksi menjadi TNI, belum ada namanya disana. Ia kemudian menunggu 2 kertas terakhir yang akan ditempel berjajar di sebelah yang lain. Dan kemudian ia mencari - cari namanya sebelah itu ia bersujud syukur karena dalam baris atas lembar terakhir tertera namanya. Abah dan Emaknya langsung memeluknya dan tanpa terasa air mata kini mulai membasahi pipinya. Sesampainya dirumah, ia kemudian merapikan baju - baju yang akan dibawanya saat pelatihan menjadi anggota TNI AD itu dilakukan yaitu 3 hari kemudian. Ia mulai melatih fisiknya lagi, setelah beberapa hari terakhir iya mulai jarang melakukannya karena terus memikirkan hasil tesnya itu. Tiba saatnya pelatihan itu dimulai. Ia dididik sangat keras di markas militer itu. Tapi dengan tekadnya menjadi TNI, ia sanggup melewatinya. Dan sekarang ia telah resmi menjadi seorang Tentara Negara Republik Indonesia. Ia mendapat tugas mengamankan di Markas Kesatuan Den Rudal 001/ Pulo Rungkom. Sebagai anggota TNI ia dikenal sebagai sosok yang ramah, jujur, disiplin dan bertanggungjawab sehingga ia disegani oleh beberapa atasannya. Ketika mendapat tugas mengamankan daerah Cut Murong, dia dikabarkan menghilang dan menyusup ke kerumunan warga yang sedang mengadakaan acara peringatan 1 Muharram. Kemudian pasukan militer Detasemen Rudal melancarkan operasi pencarian masif yang melibatkan berbagai kesatuan, termasuk Brigadir Mobil Brimob. Karena insiden ini, 20 orang warga ditangkap dan kemudian disiksa kerena dituduh menyembunyikan salah satu anggota TNI itu. Warga yang ditangkap ada yang ditendang dan dipukul berkali - kali. Sampai akhirnya warga melakukan unjuk rasa dan melakukan pengrusakan terhadap markas Korem 011 serta membakar 2 sepeda motor milik TNI. Setelah kejadian itu, banyak warga Cot Murong mulai ketakutan dengan situasi yang ada. Setelah itu, truk tentara dari Arhanud menembaki para pengunjuk rasa. Kemudian mayatnya dimasukkan ke kantong dan dibuang ke dasar sungai. Emaknya selalu menangis setiap hari dirumahnya atas apa yang menimpa anaknya. Dan sampai akhirnya ia meninggal karena tak kuasa menanti anaknya itu pulang. Dan keadaan Abdullah sendiri masih tak diketahui sampai sekarang. Penutup Itulah salah satu contoh cerpen yang berisi kisah seorang anak dalam perjuangannya meraih impian dan cita-citanya. Semoga bermanfaat, sekian dan terima kasih. nwoMR.